Selasa, 19 Maret 2013 - 18:14:43 WIB
Filsafat Ilmu Manajemen
Diposting Oleh : administrator
Dibaca: 419335 kali


FILSAFAT ILMU MANAJEMEN



Dedeng Abdul Gani A



 STIE DR. KHEZ. Muttaqien



  



  A.     Pendahuluan



Filsafat berasal dari bahasa Yunani dari akar kata philein (mencintai) + sophos (bijaksana),
dapat juga berarti philos (teman) + sophia (kebijaksanaan).
Menurut Pythagoras (572-497 SM) diartikan sebagai “philosophos” (lover of
wisdom).



Secara termilgi Berfilsafat berarti berpikir
secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sedangkan Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari dengan
sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu, dengan filsafat, manusia
berusaha menangkap makna, hikmah dari tiap pemikiran, realitas, dan kejadian,
yang akhirnya Filsafat mengantarkan manusia untuk lebih jernih dan bijaksana
dalam berpikir, bersikap,berkata, dan berbuat.



Perkembangan filsafat
berhubungan langsun dengan peradaban manusia, pada zaman sebelum ilmu
berkembang. Hasil pemikiran menjadi tantangan bagi para ilmuwan selanjutnya
dimana dalam menemukan kebenaran lebih mementingkan penemuan-penemuan empiris.
Logika bukan sebagai metode untuk menemukan atau mencari kebenaran tersebut.



Melihat lahirnya ilmu
adalah karena ketidakpuasan para ilmuwan terhadap penemuan kebenaran oleh para
filosof maka dapat dikatakan bahwa ilmu merupakan bentuk-bentuk perkembangan
filsafat. Selanjutnya dikatakan bahwa ilmu filsafat merupakan induk dari ilmu.



Pada dasarnya cabang-cabang
ilmu tersebut berkembang dari 2 cabang utama, yakni filsafat alam yang kemudian
menjadi rumpun ilmu-ilmu alam (natural sciences) dan filsafat moral yang
kemudian berkembang kedalam cabang ilmu-ilmu sosial (social sciences).
Selanjutnya ilmu-ilmu alam membagi diri menjadi 2 kelompok lagi, yakni ilmu
alam (physical sciences) dan ilmu hayat (biological sciences).



Ilmu-ilmu sosial berkembang
agak lambat dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam. Yang mula-mula berkembang
adalah antropologi, psikologi, ekonomi, sosiologi, dan ilmu politik.
Selanjutnya, baik cabang-cabang ilmu alam maupun ilmu-ilmu politik
bercabang-cabang lagi sehingga sampai pada saat ini terdapat sekitar 650 cabang
keilmuan.



Meskipun filsafat telah berkembang
menjadi bemacam-macam ilmu namun filsafat sendiri tidak tenggelam bahkan ikut
berkembang pula seirama dengan perkembangan ilmu. Dalam arti yang operasional
filsafat adalah suatu pemikiran yang mendalam sampai ke akar-akarnya terhadap
suatu masalah atau objek.



Sesuai dengan perkembangan
filsafat dan pengertiannya maka muncul berbagai macam filsafat, antara lain
filsafat alam (metafisika), filsafat ketuhanan (theologia), filsafat manusia,
filsafat ilmu, dan sebagainya.



 



B.    
Pengetahuan, Ilmu dan Filsafat



Perkembangan selanjutya dari filsafat sebagai
ilmu filsafat dikelompokkan menjadi Filsafat Ilmu Umum dan Filsafat Ilmu-ilmu
Khusus, yang terdiri dari



1. Filsafat Matematika



2. Filsafat Ilmu-ilmu Fisik



3. Filsafat Biologi



4. Filsafat Psikologi



5. Filsafat Linguistik



6. Filsafat Ilmu Sosial



Merunut akar pemikiran
peradaban manusia, manusia sebagai ciptaan Tuhan yang sempurna dalam memahami
alam sekitarnya terjadi proses yang bertingkat dari pengetahuan (sebagai hasil
tahu manusia), ilmu dan filsafat. Pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu
dari manusia yang sekedar menjawab pertanyaan "what", misalnya apa
air, apa manusia, apa alam, dan sebagainya.



Sedangkan ilmu (science)
bukan sekedar menjawab "what" melainkan akan menjawab pertanyaan
"why" dan "how", misalnya mengapa air mendidih bila
dipanaskan, mengapa bumi berputar, mengapa manusia bernapas, dan sebagainya.
Pengetahuan hanya dapat menjawab pertanyaan apa sesuatu itu. Tetapi ilmu dapat
menjawab mengapa dan bagaimana sesuatu tersebut terjadi.



Apabila pengetahuan itu
mempunyai sasaran tertentu, mempunyai metode atau pendekatan untuk mengkaji
objek tersebut sehingga memperoleh hasil yang dapat disusun secara sistematis
dan diakui secara universal maka terbentuklah disiplin ilmu.



Dengan perkataan lain, pengetahuan
itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :



a. Mempunyai objek kajian



b. Mempunyai metode
pendekatan



c. Bersifat universal
(mendapat pengakuan secara umum)



Sedangkan filsafat adalah
suatu ilmu yang kajiannya tidak hanya terbatas pada fakta-fakta saja melainkan
sampai jauh diluar fakta sampai batas kemampuan logika manusia. Ilmu mengkaji
kebenaran dengan bukti logika atau jalan pikiran manusia.



Dengan perkataan lain,
batas kajian ilmu adalah fakta sedangkan batas kajian filsafat adalah logika
atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab pertanyaan "why" dan
"how" sedangkan filsafat menjawab pertanyaan "why, why, dan
why" dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran
atau budi manusia.



Dalam perkembangan filsafat
menjadi ilmu terdapat taraf peralihan. Dalam taraf peralihan ini maka bidang
pengkajian filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan
sektoral. Disini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan
melainkan mengaitkannya dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan
hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi.



Namun demikian dengan taraf
ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan diri pada norma-norma filsafat.
Misalnya ekonomi masih merupakan penerapan etika (appliet ethics) dalam
kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnya. Metode yang dipakai adalah
normatif dan deduktif (berpikir dari hal-hal yang umum kepada yang bersifat
khusus) berdasarkan asas-asas moral yang filsafat.



Pada tahap selanjutnya ilmu
menyatakan dirinya otonom dari konsep-konsep filsafat dan bertumpu sepenuhnya
pada hakekat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan, ilmu masih
mendasari diri pada norma yang seharusnya sedangkan dalam tahap terakhir ilmu
didasarkan atas penemuan-penemuan.



Sehingga dalam menyusun
teori-teori ilmu pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak
lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif melainkan
kombinasi antara deduktif dan induktif (berpikir dari hal-hal yang bersifat
khusus kepada hal-hal yang bersifat umum) dengan jembatan yang berupa pengujian
hipotesis.



Selanjutnya proses ini
dikenal sebagai metoda deducto hipotetico-verivikatif dan metode ini dipakai
sebagai dasar pengembangan metode ilmiah yang lebih dikenal dengan metode
penelitian. Selanjutnya melalui atau menggunakan metode ilmiah ini akan
menghasilkan ilmu.



August Comte (1798-1857)
membagi 3 tingkat perkembangan ilmu pengetahuan tersebut diatas kedalam tahap
religius, metafisik, dan positif. Hal ini dimaksudkan dalam tahap pertama maka
asas religilah yang dijadikan postulat atau dalil ilmiah sehingga ilmu
merupakan deduksi atau penjabaran dari ajaran religi (deducto).



Dalam tahap kedua, orang
mulai berspekulasi, berasumsi, atau membuat hipotesis-hipotesis tentang
metafisika (keberadaan) ujud yang menjadi objek penelaahaan yang terbatas dari
dogma religi dan mengembangkan sistem pengetahuan berdasarkan postulat
metafisika tersebut (hipotetico).



Sedangkan tahap ketiga
adalah tahap pengetahuan ilmiah dimana asas-asas yang dipergunakan diuji secara
positif dalam proses verivikasi yang objektif (verivikatif).



 



C.    
Landasan Ilmu



Filsafat ilmu merupakan
kajian atau telaah secara mendalam terhadap hakekat ilmu. Oleh sebab itu,
filsafat ilmu ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu
tersebut, seperti :



a.    Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana ujud hakiki objek
tersebut ? Bagaimana hubungan objek dengan daya tangkap manusia (misalnya
berpikir, merasa, mengindera) ?



b. Bagaimana proses yang memungkinkan
ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa
yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang
disebut kebenaran itu sendiri ? Apa kriterianya ? Cara, teknik, atau sarana apa
yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu ?



c.  Untuk apa ilmu itu dipergunakan ? Bagaimana kaitan antara cara
penggunaan tersebut dan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang
ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Bagaimana hubungan antara teknik
prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dan norma-norma moral
/ profesional ?



 



Ketiga kelompok pertanyaan
tersebut merupakan landasan-landasan ilmu, yakni kelompok pertama merupakan
landasan ontologi, kelompok kedua merupakan landasan epistemologi, dan kelompok
yang terakhir merupakan landasan aksiologis.



Secara singkat uraian
landasan ilmu itu adalah sebagai berikut :



a.    Landasan ontologis adalah tentang objek yang ditelaah ilmu. Hal
ini berarti tiap ilmu harus mempunyai objek penelaahan yang jelas. Karena
diversivikasi ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek telaahannya maka tiap
disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda.



b.   Landasan epistemologi adalah cara yang digunakan untuk mengkaji
atau menelaah sehingga diperolehnya ilmu tersebut. Secara umum, metode ilmiah
pada dasarnya untuk semua disiplin ilmu yaitu berupa proses kegiatan
induksi-deduksi-verivikasi seperti telah diuraikan diatas.



c.    Landasan aksiologi adalah berhubungan dengan penggunaan ilmu
tersebut dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia. Dengan perkataan lain, apa
yang dapat disumbangkan ilmu terhadap pengembangan ilmu itu serta membagi
peningkatan kualitas hidup manusia.



 



D. Sarana Berpikir Ilmiah



Untuk melakukan kegiatan
ilmiah secara baik diperlukan sarana berpikir. Tersedianya sarana tersebut
memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat.
Penguasaan sarana berpikir ilmiah ini merupakan suatu hal yang bersifat
imperatif bagi seorang ilmuwan. Tanpa menguasai hal ini maka kegiatan ilmiah
yang baik tak dapat dilakukan.



Sarana ilmiah pada dasarnya
merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus
ditempuhnya. Pada langkah tertentu biasanya diperlukan sarana yang tertentu
pula. Oleh sebab itulah maka sebelum kita mempelajari sarana-sarana berpikir
ilmiah ini seyogyanya kita telah menguasai langkah-langkah dalam kegiatan
langkah tersebut.



Dengan jalan ini maka kita
akan sampai pada hakekat sarana yang sebenarnya sebab sarana merupakan alat
yang membantu dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Dengan kata lain, sarana
ilmiah mempunyai fungsi-fungsi yang khas dalam kaitan kegiatan ilmiah secara
menyeluruh.



Dalam proses pendidikan,
sarana berpikir ilmiah ini merupakan bidang studi tersendiri. Dalam hal ini
kita harus memperhatikan 2 hal, yaitu :



a.    Sarana ilmiah bukan merupakan kumpulan ilmu, dalam pengertian
bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan
berdasarkan metode ilmiah. Seperti diketahui, salah satu diantara ciri-ciri
ilmu umpamanya adalah penggunaan induksi dan deduksi dalam mendapatkan
pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah tidak mempergunakan cara ini dalam
mendapatkan pengetahuannya.



Secara lebih jelas dapat dikatakan bahwa
ilmu mempunyai metode tersendiri dalam mendapatkan pengetahuaannya yang berbeda
dengan sarana berpikir ilmiah.



b.   Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk
memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari
ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk
dapat memecahkan masalah kita sehari-hari. Dalam hal ini maka sarana berpikir
ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi
pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.



 



Jelaslah bahwa mengapa
sarana berpikir ilmiah mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode
ilmiah dalam mendapatkan pengetahuaannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah
adalah membantu proses metode ilmiah dan bahkan merupakan ilmu tersendiri.



Untuk dapat melakukan kegiatan
berpikir ilmiah dengan baik maka diperlukan sarana yang berupa bahasa, logika,
matematika, dan statistika. Bahasa merupakan alat komunikasi verbal yang
dipakai dalam seluruh proses berpikir ilmiah dan untuk menyampaikan jalan
pikiran tersebut kepada orang lain.



Dilihat dari pola
berpikirnya maka ilmu merupakan gabungan antara berpikir deduktif dan induktif.
Untuk itu maka penalaran ilmiah menyandarkan diri pada proses logika deduktif
dan induktif. Matematika mempunyai peranan yang penting dalam berpikir deduktif
ini sedangkan statistik mempunyai peranan penting dalam berpikir induktif.



Proses pengujian dalam
kegiatan ilmiah mengharuskan kita menguasai metode penelitian ilmiah yang pada
hakekatnya merupakan pengumpulan fakta untuk menolak atau menerima hipotesis
yang diajukan. Kemampuan berpikir ilmiah yang baik harus didukung oleh
penguasaan sarana berpikir ini dengan baik pula.



 



E.      Hubungan
Filsafat dengan Ilmu



1.   Perbedaannya,
filsafat dengan metodenya mampu mempertanyakan keabsahan dan kebenaran ilmu,
sedangkan ilmu tidak mempumempertanyakan asumsi, kebenaran, metode, dan
keabsahannya sendiri.



2.  Ilmu
lebih bersifat ekslusif, menyelidiki bidang-bidang yang terbatas, sedangkan
filsafat lebih bersifat inklusif.



3. Dengan
demikian filsafat berusaha mendapatkan pandangan yang lebih komprehensif
tentang fakta-fakta. Ilmu dalam pendekatannya lebih bersifat analitik dan
deskriptif: menganalisis keseluruhan unsur-unsur yang mnjadi bagian kajiannya,
sedangkan filsafat lebih sintetik atau sinoptik menghadapi objek kajiannya
sebagai keseluruhan.



4.   Filsafat
berusaha mencari arti fakta-fakta.



5.  Jika ilmu condong menghilangkan
faktor-faktor subjektivitas dan menganggap sepi nilai-nilai demi menghasilkan
objektivitas, maka filsafat mementingkan personalitas, nilai-nilai dan bidang pengalaman
keduanya tumbuh dari sikap refleksif, ingin tahu, dan dilandasi kecintaan
pada kebenaran



6.  Filsafat
itu tidak salah satu ilmu di antara ilmu-ilmu lain. "Filsafat itu
pemeriksaan ('survey') dari ilmu-ilmu, dan tujuan khusus dari filsafat
itu menyelaraskan ilmu-ilmu dan melengkapinya."



7.   Filsafat
mempunyai dua tugas: menekankan bahwa abstraksi-abstraksi dari ilmu.



8.   Ilmu betul-betul
hanya bersifat abstraksi (maka tidak merupakan keterangan yang menyeluruh), dan
melengkapi ilmu-ilmu dengan cara ini: membandingkan hasil ilmu-ilmu dengan
pengetahuan intuitif mengenai alam raya, pengetahuan yang lebih konkret, sambil
mendukung pembentukan skema-skema berpikir yang lebih menyeluruh.



9.  Hubungan
ilmu dengan filsafat bersifat interaksi. Perkembangan-perkembangan ilmiah
teoritis selalu berkaitan dengan pemikiran filsafati, dan suatu perubahan besar
dalam hasil dan metode ilmu tercermin dalam filsafat.



10.  Ilmu
merupakan masalah yang hidup bagi filsafat. Ilmu membekali filsafat dengan
bahan-bahan deskriptif dan faktual yang sangat perlu untuk membangun filsafat.
Tiap filsafat dari suatu periode condong merefleksikan pandangan ilmiah di
periode itu. Ilmu melakukan cek terhadap filsafat dengan membantu menghilangkan
ide-ide yang tidak sesuai dengan pengetahuan ilmiah. Sedangkan filsafat memberikan
kritik tentang asumsi dan postulat ilmu serta analisa kritik tentang
istilah-istilah yang dipakai



 



FILSAFAT ILMU MANAJEMEN



A. Definisi
Manajemen



Dijelaskan
di atas sebagai salah satu objek formal dari filsafat adalah lmu itu sendiri,
dalam kaitan ini manajemen sebagai ilmu merupakan objek tersendiri sebagi bahan
kajian filsafat, dari sisilain sebagai cabang dari filsafat social manajemen
juga merupakan ilmu yang terus berkembang mengikuti perkembangan peradaban
manusia, dan pengembangan ilmu manajemen dan bisnis memerlukan filsafat,
sebagai metodologi ilmiah. Manajemen sebagai ilmu adalah aksiologi dari ranah
filsafat, yang memiliki nilai guna untuk menyelesaikan permasaahan yang dihadap
manusia.



Sebelum
itu ilmu manajemen didefinisikan sebagai : a
science approach to solving management problems in order to help managers make
better decision.
yang artinya suatu pendekatan
ilmu pengetahuan untuk memecahkan permasalahan manajemen untuk membantu para
manajer membuat keputusan terbaik. Dalam kajian ini metode alat analisis
keilmuan untuk memuat keputusan manajer harus dibantu dengan data-data dan
fakta, kemudian dianalisis dengan metode kuantitatif sebaga alat pengamblan
keputusan.



Manajemen juga didefinisikan sebagai proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan/pemberian tanggungjawab dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan pengguna sumber daya- sumber daya organisasi yang telah
ditetapkan,



Sehingga manajemen harus mengandung unsur :



·        
Proses
pengoordinasian kegiatan-kegiatan pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut
terselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain.



·        
Efisien,
memperoleh output terbesar dengan infut yang terkecil; digambarkan sebagai “
melakukan segala sesuatu secara benar”.



·        
Efektivitas,
menyelesaikan kegiatan-kegiatan sehingga sasaran organisasi dapat tercapai;
digambarkan sebagai “ melakukan segala sesuatu yang benar”.



 



B.   Fungsi manajemen



                      Sedangkan
manajemen memiliki fungsi :



1. Perencanaan, Proses mendifinisikan
sasaran, menetapkan strategi untuk mencapai sasaran itu, dan menyusun rencana
untuk mengintegrasikan dan mengordinasikan sejumlah kegiatan.



2.  Pengorganisasian, proses menentukan tugas
apa yang akan dilakukan, siapa yang melakukan, bagaimana cara mengelompokan
tugas-tugas, siapa harus melapor ke siapa, dan dimana keputusan harus dibuat.



3. Kepemimpinan, fungsi manajemen yang
mencakup memotivasi bawahan, mempengaruhi individu atau tim sewaktu mereka
bekerja, memiliki saluran komunikasi yang efektif, dan memecahkan dengan
berbagai cara masalah perilaku karyawan.



4. Pengendalian, fungsi manajemen yang
mencakup memantau kinerja aktual, membandingkan aktual dengan standar, dan
membuat koreksi bila perlu.



Permasalahan
utama dari sebuah organisasi adalah mencapai tujuan organisasi yang pada
kenyataanya tidak begitusaja mudah untuk dicapai, disinilah pentingnya
manajemen.



 



C.
  Metodologi Ilmu Manajemen



Sebagai
ilmu manajemen adalah pendekatan memecahkan masalah, secara umum proses ilmu
manajemen dalam memecahkan masalah adalah :



1. Observasi, artinya proses mengindikasikan
masalah yang ada dalam sistem organisasi.



2.  Definisi masalah, masalah yang ada harus
jelas dan dapat didefinisikan.



3.  Menyusun model, faktor-faktor atau
indikasi faktor yang menyebabkan masalah itu timbul.



4.   Meyusun solusi-solusi alternatif
penyelesaian masalah.



5.   Menerapkan model solusi menjadi pemecahan
masalah sebenarnya.



 



 



REFERENSI



Amsal Bakhtiar, (2004) Filsafat Ilmu, Raja Grafindo Persada,
Jakarta



Made Pramono, (2005), Dasar-dasar Filsafat, http.www.googlesearchfilsafat,
Sepetember 2008



Soekidjo Notoatmojo, Filsafat Ilmu dan Meodologi Penelitian, artikel http.www.googlesearchfilsafat, Sepetember
2008





18704 Komentar :

Jasa Pengiriman Mobil
14 Agustus 2013 - 11:57:53 WIB

http://www.gogoex.com
toko baju
15 Agustus 2013 - 01:32:32 WIB

infonya boleh juga :) . thanks :)
sewa properti di bandung
15 Agustus 2013 - 11:39:13 WIB

http://www.urbanindo.com
Jasa Pengiriman Mobil
16 Agustus 2013 - 14:28:37 WIB

niceeee postttt !!
jasa pindahan
17 Agustus 2013 - 01:37:06 WIB

websitenya bagus,postinganya juga menarik.sangat bermanfaat bagi pengunjung.
Conveyor Belt
19 Agustus 2013 - 10:36:59 WIB

APA ITU CONVEYOR BELT? baca selengkapnya disini http://centralbeltconveyor.com/
Kata Lucu
19 Agustus 2013 - 12:42:36 WIB

menabung ilmu yg paling ampuh adalah membaca ,. thanks udah berbagi :)
obat tradisional penyakit jantung k
19 Agustus 2013 - 20:59:11 WIB

Informasinya saya simak, terima kasih telah berbagi

http://goo.gl/eIffvU

Obat Bagus
20 Agustus 2013 - 10:24:23 WIB


ikutan simak informasinya yah , salam kenal

http://goo.gl/0EhHv

Obat Herbal Alami
21 Agustus 2013 - 11:10:25 WIB

IKutan berkunjung di blog ini teman, salam kenal

http://goo.gl/uvq0DM

<< First | < Prev | ... 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | ... | 1871 | Next > | Last >>

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)